KH. Baidlowi Sirodj

Baidlowi lahir pada tahun 1900 M di desa Kajen. Beliau terlahir untuk meneruskan perjuangan ayah dan leluhurnya. Ayahnya KH. Sirodj adalah ulama besar keturunan Syekh Ahmad Mutamakkin dari dua garis, yaitu Hendro Muhammad dan Nyai Alfiah (Mbah Godek). Silsilah beliau dari garis ayah adalah Baidlowi bin Sirodj bin Ishaq bin Sawijah binti R. Danum bin Thoyibah binti Muhammad Hendro Kusumo bin Ahmad Mutamakkin.

KH.Baidlowi adalah anak kedua dari empat bersaudara yaitu Halimah, Baidlowi, Hambali dan Fathimah. Beliau menikah dengan seorang putri dari Krasak Jepara bernama Hj. Hajroh yang setia mendampingi beliau sampai akhir hayatnya. Ketika KH. Baidlowi berumur sekitar lima tahun, ayahnya mendirikan Pesantren Wetan Banon, sebelah timur Makam Syekh Ahmad Mutamakkin.

KH.Baidlowi dikenal sebagai sosok yang menyukai dan mengagumi binatang. Beliau memelihara beberapa binatang ternak seperti ayam, bebek, kambing dan lain sebagainya. Ayahnya, KH. Sirodj menyediakan tanah bagian timur kepada KH.Baidlowi untuk dibuat beberapa kamar pondokan. Sementara yang telah dibangun ayahnya diberikan untuk adiknya. KH. Baidlowi bersama saudara- saudaranya yaitu KH. Abdul Qohar (Suami Nyai Hj. Halimah), KH. Hambali dan KH. Zubaidi (Suami Nyai Hj. Fatimah), mengembangkan lembaga yang telah dirintis oleh ayahnya, KH. Sirodj. Sewaktu KH. Sirodj meninggal dunia, putranya KH.Hambali berperan untuk melanjutkan mengasuh pondok Kajen Wetan Banon sampai kolonial Jepang menutup aktivitas pesantren untuk sementara.

Kehidupan masa kecilnya di lingkungan pesantren berperan besar dalam pembentukan wataknya yang haus ilmu pengetahuan dan kepeduliannya pada pelaksanaan ajaran-ajaran agama dengan baik. Di usia mudanya, beliau mengembara untuk menimba ilmu di berbagai pesantren di Jawa. Beliau pernah nyantri di Termas, Tebuireng, Bangkalan, dan Lasem. Di berbagai pesantren tersebut, para santri mengamalkan ajaran agama Islam dan belajar bebagai cabang ilmu agama Islam. Suasana ini sangat mempengaruhi karakter beliau hingga kelak mengemban amanah melanjutkan perjuangan ayahnya mengasuh pesantren.

Tradisi menuntut ilmu di pesantren memberi kesempatan kepada KH.Baidlowi untuk belajar tata bahasa dan Bahasa Arab, Fiqih dan Sufisme dari Kyai Kholil Bangkalan, sebelum beliau memfokuskan diri dalam bidang studi al-Qur’an dan tafsir.

Pada tahun 1922, KH. Baidlowi pergi ke Mekkah. Selama tiga tahun di sana, beliau manfaatkan untuk menjalankan ibadah haji dan belajar berbagai ilmu Agama Islam. Di Mekkah, pada awal mulanya KH. Baidlowi belajar di bawah bimbingan Syaikh Mahfudz dari Termas, ulama Indonesia pertama yang mengajar Shahih Bukhari di Mekkah. Syaikh Mahfudz adalah ahli ilmu hadits. KH.Baidlowi sangat tertarik dengan ilmu ini sehingga setelah kembali ke Indonesia, beliau mendirikan pengajian khusus tentang Hadits. KH. BAIDLOWI juga mendapat ijazah untuk mengajar Shahih Bukhari dari Syaikh Mahfudz, pewaris terakhir dari pertalian penerima (Isnad) hadits dari 23 Thariqah Qadiriyyah dan Naqsabandiyah, ilmu yang diterima oleh Syaikh Mahfudz dari Syaikh Nawawi. Sebelumnya, Syaikh yang terakhir ini menerima ilmu tersebut dari Syaikh Ahmad Khatib dari Sambas (dikenal dengan Syaikh Sambas dari Kalimantan Barat), seorang sufi yang pertama kali menggabungkan Thariqah Qadiriyyah dan Naqsabandiyah.

Syaikh Mahfudz merupakan figur penting pembentuk tradisi sufi yang menggabungkan konsep Syaikh Nawawi dari Banten dan Syekh Sambas. Pemikiran-pemikiran beliau banyak mempengaruhi karakteristik keilmuan KH.Baidlowi.Pengaruh tradisi ini juga tercermin dari kenyataan bahwa Syeikh Sambas yang masih mempertahankan tradisi pemikiran bermadzab dan pendekatan sufisme juga dapat ditemukan dalam pemikiran KH.Baidlowi.

Selain itu, KH. Baidlowi juga belajar dengan Syeikh Bagir al-Yogya al-Makki. Syeikh Bagir ini juga telah membentuk karakteristik KH. Baidlowi dalam hal pengetahuannya tentang sufisme yang didukung dengan pemahaman tafsir.KH.Baidlowi juga merupakan Mursyid dari KH. Mansyur Popongan Sleman. Hal ini diperkuat dengan ilmu yang didapatkan dari ulama besar Jawa, yaitu KH. Hasyim Asy’ari yang memiliki banyak ilmu keagamaan.

Walaupun KH. Baidlowi mengikuti satu tarekat, beliau melarang santrinya menjalankan praktek-praktek sufi di pesantrennya agar mereka tidak terganggu dalam belajar. Beliau juga menolak tarekat yang dianggap menyimpang dari ajaran agama Islam.Apa yang beliau lakukan ini sama dengan KH. Hasyim Asy’ari yang juga meminimalisasi gerakan-gerakan yang bertentangan dengan syari’ah Islam. KH.Hasyim Asy’ari memuji rasionalitas Muhammad Abduh setelah mempelajari tafsir al-Manar, tapi dia tidak menganjurkan kitab ini dipelajari para santrinya, karena Abduh banyak mengejek ulama. KH.Hasyim Asy’ari juga setuju dengan motivasi Abduh untuk meningkatkan semangat Muslim, tetapi tidak setuju dengan pendapat Abduh untuk membebaskan umat dari tradisi madzhab.Berbeda dengan Abduh, KH.Hasyim Asy’ari mengajarkan pada santrinya agar memahami beberapa pendapat pemikiran hukum dan madzhab yang terpercaya.

Guru-guru lain yang juga ikut membentuk intelektualnya adalah KH.Kholil Lasem, KH.Dimyati Termas, dan lain sebagainya.Bisa disimpulkan bahwa perkembangan intelektual KH.Baidlowi juga didorong oleh lingkungan intelektual Muslim Internasional dan Nasional. Oleh karena itu, tidak heran bila banyak murid beliau kemudian menjadi ulama yang disegani di Indonesia.KH.Baidlowi juga produktif menulis kitab untuk menuangkan pemikirannya.Diantara karyanya adalah kitab Mudarafatal-Basyir (Musthalahal-Qur’an) dan Risalat al-Makhot.

Dengan berbekal dari pengalamannya di Mekkah dan anjuran gurunya itulah KH.BAIDLOWIE segera mengambil tindakan defensif guna meredam gejolak perkembangan Wahabiah di tanah air. Karena perkembangan tersebut sedikit banyak bertentangan dengan faham Ulama Salaf (Ahlus-Sunnah Waal-Jama’ah), yang membolehkan ber-ittiba’ kepada suatu madzhab.

Beliau mendirikan sebuah Madrasah dengan nama “Salafiyah” pada tahun 1935 untuk memperbaharui proses pengajaran di Pondok Wetan Banon. Pendirian Madrasah inipun disebabkan oleh faktor internal lain, termasuk konflik nasional berkepanjangan sebagai implikasi kolonialisme Belanda yang menghendaki penetrasi dalam segala bidang kehidupan bangsa, diantaranya bidang edukasi.Misalnya, rakyat dijadikan sebagai sumber tenaga kuli & hanya diberi kesempatan untuk pandai dalam hal membaca dan menulis, yang bertujuan untuk melanggengkan penjajahan (pelanggaran hak asasi manusia) di bumi Indonesia. Bersama beberapa madrasah lainyang menyebar di seluruh pelosok tanah air, Madrasah Salafiyah didirikan untuk menyelamatkan mental bangsa yang sedang terancam ini.

Atas dasar kecenderungan masyarakat pada waktu itu dan sesuai dengan perkembangan pendidikan pengajaran di tanah air, menjelmalah Madrasah Salafiyah sebagai lembaga pendidikan yang sistematis dan terorganisir, serta memakai metode kurikulum.Lembaga yang dirintis KH.Baidlowi dengan adiknya KH.Hambali (1935-1942) dan rekannya H. Hamzawie ini bertempat di Kajen dengan menjaring masyarakat sekitarnya serta santri-santri pendatang dari berbagai daerah. Selanjutnya, sejak masa pendudukan fasis militer Jepang (1942) madrasah ditutup sementara, dan pengurusnya ikut terjun ke kancah politik perjuangan, seperti ke Lasykar Hizbullah atau menangani keagamaan di Pemerintah (Kemenag).

Setelah situasi politik memungkinkan, Madrasah Salafiyah Kajen dibuka kembali, di bawah asuhan KH.Baidlowi dengan dibantu H. Hamzawie dan penerus angkatan mudanya. Pada tahun 1948, berkat ketekunan dari pengelolanya, Madrasah Salafiyah sudah mendapat pengakuan dari Pemerintah, bahkan pada tahun 1950, Salafiyah mendapatkan subsidi pemerintah yang berupa tenaga pengajar dan alat-alat sekolah.

Kemampuan KH. Baidlowi mengajak angkatan muda dan santri-santrinya yang mumpuni untuk ikut bergabung cukup memadai, sehingga metode klasikal dan tradisi diskusi/ musyawarah diterapkan.Para santri begitu tekun dan merasa cocok dengan metode seperti ini.

Atas perkembangan yang baik ini pada tahun 1955 Salafiyah mendapat “PIAGAM” (Pengakuan Wajib Belajar) dari Pemerintah /Departemen Agama (Republik Indonesia).Pada tahun 1968, didirikan tingkat Aliyah tiga tahun, disusul bagian tingkat Muallimat enam tahun pada tahun 1971. Pada tahun 1975, Salafiyah menerima surat “Pengesahan Perguruan Agama Islam” dari pemerintah dengan nomor : K/127/III/75.

Murid KH. Baidlowi telah tersebar di daerah Pati, Demak, Jepara, Kudus, Grobogan, Rembang, Semarang dan daerah – daerah lainnya. Diantara mereka ada yang telah menjadi ulama besar, seperti Prof. Dr. KH, Sjechul Hadi Permono, SE, SH, MA (alm), Dosen IAIN Sunan Ampel, Pengasuh sebuah Pesantren di Surabaya, dan  pernah menjadi anggota DPR RI Pusat, serta menjadi Guru Besar di berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur. Tokoh-tokoh lainnya masih banyak dan tidak dapat disebut disini satu persatu.

KH.Baidlowi selalu menganjurkan untuk memperluas spektrum ruang gerak Salafiyah. Padatanggal 2 Februari 1981, lembaga tersebut dijadikan Yayasan yang diberi nama Yayasan Assalafiyah dan berpusat di desa Kajen Margoyoso Pati. Ketika buah perjuangannya semakin membaik, pada subuh hari Jum’at Pahing, 3 Ramadhan 1402 H/ 25 Juni 1982 M, beliau berpulang ke Rahmatullah. KH. BAIDLOWI wafat dalam usia 82 tahun dengan meninggalkan 2 putra dan 4 orang putri, yaitu KH. Faqihuddin, KH. Ali Ajib, Nyai Hj. Su’adah, Nyai Hj. Hamdanah, Nyai Hj. Alfiyah dan Nyai Hj. Nihayah. KH.Faqihuddin menikah dengan putri dari kudus, Nyai Hj. Nasiroh, sedangkan KH.Ali Ajib menikah dengan putri dari Kendal, Ny.Hj.Shofwah.Sementara 4 orang putri KH.Baidlowi dipersunting oleh beberapa ulama.Nyai Hj. Su’adah menikah dengan KH.Abdul Wahab dari Cangkring Demak.Semasa hidupnya, KH.Abdul Wahab mendampingi kakak dan adik iparnya dalam mengembangkan pesantren Salafiyah dan Madrasah Salafiyah. Nyai Hj. Hamdanah menikah dengan KH.Afif Daenuri dari Sendangguwo Pandanaran Semarang. Nyai Hj. Alfiyah menikah dengan KH.Umar Syarif dari Gedangan Sidoarjo Jawa Timur dan putri bungsunya Nyai Hj. Nihayah menikah dengan KH.Muhibbi Hamzawie dari Kajen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *