Ajak Mahasiswa Melek Literasi dengan Ngabubu Read

TUNJUKKAN KOLEKSI BUKU: Musa Al Murtadha (tengah) bersama dua rekannya memperlihatkan beberapa buku koleksi Komunitas Pawon Literasi di rumah kontrakan daerah Pancakarya, Kelurahan Rejosari, Semarang Timur.

Berawal dari kegelisahan sebagian mahasiswa dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah yang hanya mengandalkan referensi internet dan fenomena status media sosial (medsos) yang menggunakan quote dari beragam tokoh, namun pemilik status tidak tahu siapa sebenarnya tokoh tersebut, maka dibentuklah Komunitas Pawon Literasi. Seperti apa?

DIAZ AZMINATUL ABIDIN

PAWON dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai dapur tempat memasak. Dari istilah ini, diharapkan Komunitas Pawon Literasi akan menjadi dapur segala macam ilmu yang bersumber dari buku. Adalah Musa Al Murtadha, Prawira Deaa Bagus Utama, dan Ahmad Al’maarif yang merupakan mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Keolahragaan (FPIPSKR) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang mencetuskan ide membuat Komunitas Pawon Literasi.

”Awal mulanya kami dari lembaga kajian Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kampus UPGRIS. Dalam satu minggu biasanya kami menggelar 2 kali diskusi buku. Lalu dari situ kami melihat bahwa literasi teman-teman mahasiswa Kampus UPGRIS rendah dalam kajian. Oleh sebab itu, kami berinisiatif membuat komunitas sendiri dengan tujuan lebih dapat merangkul mahasiswa lain untuk lebih aktif membaca,” kata Musa kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pada 21 Maret 2017, Komunitas Pawon Literasi terbentuk. Musa melihat bahwa gerakan literasi di kota lain seperti Solo dan Jogjakarta bagus. Banyak komunitas yang bergerak untuk meningkatkan daya baca masyarakat. Dan bagi Musa, komunitas tersebut banyak berhasil membuat masyarakat lebih tertarik dengan buku.

Untuk bulan puasa ini, Komunitas Pawon Literasi menggelar kegiatan membaca dengan sebuah meja berisi macam-macam buku di taman kampus UPGRIS. Kegiatan dilakukan seminggu dua kali yakni Selasa dan Kamis mulai pukul 16.00.

Kata dia, mahasiswa lain sedikit-sedikit mulai tertarik untuk bergabung membaca. Gerakan itu dilakukan sambil menungggu azan Magrib berbuka puasa atau ngabuburit yang diplesetkan menjadi Ngabubu Read.

”Sedikit demi sedikit mulai banyak yang bergabung, entah cuma sepuluh atau datang lagi beberapa. Alhamdulillah antusiasmenya baik, meskipun komunitas belum lama terbentuk,” ujar mahasiswa asal Kabupaten Pati ini.

Ada faktor lain di mana komunitas terbentuk. Musa mengaku gelisah lantaran melihat mahasiswa UPGRIS sebagai kampus pendidikan minim kegiatan diskusi. Melihat itu, ia dan teman-temannya memiliki inisiatif mencari cara bagaimana caranya mahasiswa kampus UPGRIS lebih gemar membaca.

Ia pun mengaku canggung dengan pendidikan di kampus di mana dalam membuat tugas-tugas makalah sering mengambil referensi dari internet tanpa mengetahui isi buku dari referensi yang diambil.

”Lalu kita juga melihat banyak teman-teman sering menggunakan kalimat, kata-kata mutiara atau quote dari tokoh-tokoh untuk status di media sosial tanpa mengetahui siapa sebenarnya tokoh itu. Misalnya banyak yang pakai quote dari Sastrawan Pramoedya Ananta Toer, tapi mereka tidak tahu lebih jauh siapa itu Pram dengan membaca buku,” ujar Musa yang juga aktif di pers mahasiswa ini.

Ia mengharapkan lewat komunitas itu mahasiswa harus melek literasi. Setelah itu, harapannya ada kegiatan belajar menulis selain membaca itu sendiri. Tentu dengan berdiskusi dan mengajak penulis-penulis untuk mengisi kegiatan diskusi dan sharing-sharing ringan.

”Kami menggunakan media sosial, Instagram dan Facebook untuk berbagi informasi tentang kegiatan komunitas. Media sosial cukup efektif untuk sekadar pemberitahuan kegiatan, atau ajakan-ajakan positif gerakan melek literasi,” lanjut pria 23 tahun tersebut.

Untuk mendapatkan buku-buku, Musa memperolehnya dari warisan sang ayah. Koleksi buku ayah Musa yang merupakan mantan wartawan cukup banyak bila untuk menunjang stok buku untuk komunitas.

”Ayah saya wartawan dulu. Di rumah banyak buku dan saya juga senang membaca. Sayang, kalau melihat perpustakaan di rumah tidak terlalu bermanfaat, lalu ini untuk modal buku di komunitas,” ujarnya.

Selain dari koleksi buku pribadi, pihaknya dan kawan-kawan mengusahakan mendapatkan donasi buku dari luar. Misalnya baru-baru ini, kata Musa, salah seorang penulis di Kota Semarang, Budi Maryono memberikan donasi buku ke Komunitas Pawon Literasi. ”Untuk sebuah perpustakaan, koleksi buku kami hanya seratusan lebih saja. Angka ini saya akui kurang. Kami usahakan agar koleksi buku bertambah,” selorohnya.

Musa melihat gerakan literasi ini harus menyebar ke area yang lebih luas. Berawal di Kampus UPGRIS, ke depan juga harus ada di taman-taman Kota Semarang, kampus-kampus atau area publik lain.

Sementara itu, di luar kegiatan membaca di Taman UPGRIS, pihaknya juga membuka perpustakaan mini di rumah kontrakan di Jalan Pancakarya Blok 49/415 Kelurahan Rejosari, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang. Atau tepatnya tidak jauh dari kawasan yang dikenal sebagai Pasar Manuk atau Pasar Burung.

”Siapapun boleh datang kemari dan bergabung diskusi atau membaca. Buku juga bisa dipinjam. Tinggal datang saja dan mencatat peminjaman. Kalau anak internal, teman-teman dekat, ada syarat meminjam. Yakni minimal mereka harus berani untuk mendiskusikan buku yang dibacanya,” timpal anggota lain, Prawira Deaa Bagus Utama

 

Dikutip dari :

http://radarsemarang.jawapos.com/read/2017/06/06/4364/ajak-mahasiswa-melek-literasi-dengan-ngabubu-read/4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *